Minggu, 06 November 2011

Gizi Buruk dalam Kajian Filsafat

I.       Abstraksi
            Pada umumnya gizi buruk dikenal karena kurangnya asupan makanan. Tetapi ketika mempelajari penyebab gizi buruk lebih dalam, permasalahnya bukan hanya itu saja, melainkan sangat kompleks. Berbagai faktor lain turut ikut andil dalam meningkatnya kasus gizi buruk.      
                        Data statistik angka Kematian Bayi (AKB) yang masih cukup tinggi berdasarkan SDKI 2007, AKB sebesar 68 per 1000 kelahiran hidup. Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dari tahun 2007 ke 2010, untuk gizi kurang tetap 13,0 dan untuk gizi buruk, dari 5,4 menjadi 4,9. Melihat data statistik tersebut tentu di Indonesia AKB maupun gizi buruk sudah sangat mengkhawatirkan.
            Faktor yang menjadi penyebab tidak langsung kematian bayi akibat gizi buruk dari sisi kebutuhan (demand), antara lain adalah sosial ekonomi yang rendah, pendidikan ibu, kondisi sosial budaya yang tidak mendukung, kedudukan dan peran perempuan yang tidak mendukung, akses sulit, serta perilaku perawatan bayi dan balita yang tidak sehat. Sementara ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan yang belum merata, kesinambungan pelayanan KIA yang belum memadai, pembiayaan pelayanan KIA yang belum memadai, menyumbangkan masalah dari sisi supplay. Faktor yang menjadi penyebab langsung yakni asupan makanan dan infeksi penyakit.
            Dalam pembahasan secara kefilsafatan, penyebab kematian bayi akibat gizi buruk dapat dikaji melalui pendekatan kajian logika dan etika. Pendekatan kajian logika dapat dikaitkan dengan faktor langsung dan faktor tidak langsung, sedangkan pendekatan kajian etika hanya dapat dikaitkan dengan faktor tidak langsung.

II.      Pendahuluan

            Mengidentifikasi masalah AKB karena gizi buruk dikaji dalam kefilsafatan, tentu jika filsafat bermain dalam diri seseorang, maka orang tersebut tidak berdasarkan pada kemutlakan teori, melainkan turut menggunakan logika yang menjadikan seseorang tidak sekedar mengetahui, tapi menjadikannya sebagai pemicu untuk turut menyelesaikannya.
            Data statistik yang menunjukan AKB dan gizi buruk yang memperihatinkan, kemudian menjadikan rasa ingin membahas penyebab AKI dan gizi buruk.
            AKB dan gizi buruk di Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina. Kemudian apa yang menjadikan Indonesia menjadi negara yang paling sulit menurunkan AKI karena gizi buruk? Padahal sacara logika, tanah di Indonesia sangat subur, bahari dan agraria yang sangat melimpah, Indonesia bukan negara yang mempunyai musim kekeringan panjang yang luas diberbagai daerah seperti di Afrika.
            Hal-hal yang menjadi acuan pertama dalam penanganan kasus AKI karena gizi buruk dapat melalui hal berikut: perawatan anak di tingkat rumah tangga dan keluarga, deteksi dini penyakit serta perilaku mencari pertolongan harus ditungkatkan dan meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan kesehatan.






III.    Isi

            Pengkajian kasus AKI dan gizi buruk dapat dikaji kedalam filsafat melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan kajian logika dan etika. Pendekatan kajian logika dapat dilihat dari asupan makanan dan infeksi penyakit, sedangkan pendekatan kajian etika dilihat dari faktor tidak langsung, yakni sosial ekonomi yang rendah, pendidikan ibu, kondisi sosial budaya yang tidak mendukung, kedudukan dan peran perempuan yang tidak mendukung, akses sulit, serta perilaku perawatan bayi dan balita yang tidak sehat. Berikut ini adalah penjelasan.
            Penggunaan teori yang menjadi acuan para ahli kesehatan masyarakat ialah Level of Prevention. Level of prevention terdiri dari tiga hirarki, yakni
ü  Primary prevention
Primary prevention ialah pencegahan yang dilakukan ketika belum sakit. Jadi pada hirarki ini, yang dilakukan ahli kesehatan masyarakat ialah promosi kesehatan dan perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit.
ü  Secondary prevention
Secondary prevention ialah pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit sudah berlangsung namun belum timbul tanda atau gejala sakit. Ha yang dilakukan ahli kesehatan yakni diagnosis dini dan pengobatan segera.
ü  Tertier prevention
Tertier prevention ialah pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit sudah lanjut. Hal yang dilakukan tenaga ahli kesehtan masyarakat ialah pencegahan kecacatan dan rehabilitasi.


1)      Pedekatan kajian logika

      Logika terbentuk ketika data-data di dalam otak sudah ada dan terkumpul, kemudian dibuat suatu kesimpulan jika kita menyadari dan mencoba berfikir untuk menyelesaikannya. Berikut ini pembahasan faktor langsung dan faktor tidak langsung yang membuat logika kita berfikir bahwa inilah penyebab AKB karena gizi buruk, dan dikaitkan ke dalam teori level of prevention.

a)      Faktor langsung

Asupan makanan yang sangat kurang memang masalah yang umumnya diketahui oleh banyak orang, tetapi pada balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan dapat meningkatkan resiko gizi buruk, balita yang dispih kurang dari 2 tahun, balita tidak mendapat Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) pada umur 6 bulan atau lebih, MP-ASI kurang dan tidak bergizi, setelah umur 6 bulan balita jarang disusui, balita menderita sakit dalam waktu lama, seperti diare, campak, TBC, batuk, pilek. Jika pengetahuan kepada para ibu belum merata apa saja faktor pendukung gizi buruk, tentu usaha untuk menurunkan angka gizi buruk akan sulit. Disinilah peran tenaga ahli kesehatan masyarakat untuk tidak lelah merambah kepelosok untuk memberi penyuluhan kepada para ibu agar anaknya terhindar dari gizi buruk. Tindakan-tindakan tersebut lebih kearah proses pencegahan sebelum sakit, yakni termasuk kedalam primary prevention. Pembahasan primary prevention dalam konteks tersebut sebagai berikut:
Ø  Promosi kesehatan
Penyuluhan akan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama, tidak menyapih anak kurang dari 2 tahun, meningkatkan makanan bergizi bagi anak, peningkatan kualitas lingkungan agar tidak terjadi diare, TBC dan penyakit semacamnya yang bisa membuat keadaan anak semakin memburuk.
Ø  Perlindungan umum dan khusus
Cara yang dilakukan dalam tingkatan ini ialah peningkatan higenis seseorang, dengan berperilaku bersih maka ia tidak terhindar dari penyakit semacam diare. Diare merupakan penyakit yang terjadi ketika lebih dari
                        tiga kali buang air besar, kemudian feses berbentuk cair,                               dan ketika diare, air yang terbuang bersama feses                                                 mengandung ion-ion yang dibutuhkan tubuh. Jelas, jika                                    seorang anak tidak cepat-cepat diobati maka ia akan                           kekurangan cairan. Dan apabila hal itu berlangsung lama                                    akan menyebabkan gizi buruk.

b)      Faktor tidak langsung
     
      Beberapa faktor menjadi penyebab tidak langsung kematian bayi dan          balita. Dari sisi kebutuhan (demand), antara lain adalah sosial ekonomi yang rendah, pendidikan ibu, kondisi sosial budaya yang tidak   mendukung, kedudukan dan peran perempuan yang tidak mendukung       seperti ibu yang cacat ataupun sakit keras sehingga tidak bisa menjaga        anaknya dengan maksimal, akses yang sulit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan seperti posyandu atau puskesmas, serta perilaku perawatan bayi dan balita yang tidak sehat, ketersediaan sarana dan       prasarana kesehatan yang belum merata, kesinambungan pelayanan             KIA yang belum memadai, pembiayaan pelayanan KIA yang belum          memadai, menyumbangkan    masalah dari            sisi supply.
      Dari penjelasan di atas, tingkatan yang tepat juga masih dalam bentuk         primary prevention.

            Jika masih ada yang belum terselesaikan pada penjabaran faktor-faktor tersebut, tentu penurunan gizi buruk di Indonesia tidak akan terlihat secara signifikan. Jika logika dari seorang tenaga ahli kesehatan berjalan dengan hatinya dan rasa kemanusiaanya, jarak pun tidak akan menjadi tolak ukur dalam perhatian dan kebaktiannya terhadap masalah gizi buruk di Indonesia.



2)         Pendekatan kajian etika
           
            Etika adalah kebiasaan yang berkaitan dengan tindakan laku manusia. Kata yang   cukup dekat dengan etika adalah moral. Pengertian etika bertambah seiring         dengan perkembangan jaman, menutur KBBI 1988, disitu etika dijelaskan dengan    membedakan tiga arti: 1) ilmu apa yang bail dan apa yang buruk dan tentak hak            dan kewajiban moral, 2) kumpulan asaz atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, 3) nilai yang mengandung benar atau salah yang dianut oleh suatu golongan. Faktor tidak ;langsung yang mempengaruhi gizi buruk ikut turut andil, seperti      kebijakan pemerintah bagaimana menanggulangi masalah gizi buruk, kemudian keseriusan pemerintah untuk memerangi gizi buruk harus benar-benar, sebab ini             adalah masalah kemanusiaan. Setiap orang tentu ingin membantu orang-orang        pelosok yang terkena gizi buruk, kemudian tinggal bagaimana sikap pemerintah    mengkoordinir bantuan kemanusiaan dari masyarakat. Kemudian jasa pelayanan           kesehatan, harus dibutuhkan orang yang benar-benar mempunyai jiwa          kemanusiaan yang menjadikannnya rela untuk ditempatkan didaerah terpencil.       Jika komponen pemerintah, jasa pelayanan kesehatan dan masyarakat membuat             suatu konsolidasi yang kokoh, permasalahan kesehatan tersebut bisa ditekan.
                        Hal yang berkaitan dengan pendekatan kajian etika ialah secondary prevention dan tertiery prevention. Berikut ini penjelasannya:
·         Secondary prevention
Hal yang dilakukan dalam tinggkat ini ialah diagnosis dini dan pengobatan segera. Dibutukan tenaga kesehatan yang mempunyai jiwa sosial untuk membantu masyarakat yang tinggal didaerah pelosok.

·         Tertiery prevention
Pembatasan kecacatan dan rehabilitasi ialah hal yang dilakukan dalam tingkat ini. Sekali lagi diperlukan tenaga kesehatan yang mau untuk bekerja untuk masyakarakat yang tinggal didaerah pedalaman untuk senantiasa menjaga para penderita yang telah sembuh dari atrofi, yakni pengecilan otot yang dikarenakan otot tidak sering digunakan. Dan rehabilitasi merupakan pengembalian rasa semangat dan kepercayaan diri si penderita setelah sakit. Agar setelah sembuh ia bisa bersosialisasi seperti biasa dengan masyarakat.




IV.   Kesimpulan dan Saran
                        Jadi, penekanan angka anak yang terkena gizi buruk tidak bisa diselesaikan oleh     pelayanan kesehatan saja, melainkan kebijakan pemerintah dan masyarakat serta ibu    rumah tangga ikut berperan dalam menganggulangi angka gizi buruk tersebut.
                        Berikut ini masukan yang ditunjukan agar pengetahuan terbuka tentang apa saja     yang    harus dilakukan agar pencegahan gizi buruk berjalan dengan maksimal.
            1. Perawatan anak di tingkat rumah tangga dan keluarga, deteksi dini penyakit serta                          perilaku mencari pertolongan.
ü  Mendorong peningkatan perilaku hidup sehat di masyarakat termasuk partisipasi    mereka dalam kesehatan ibu dan anak.
ü  Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang pencegahan dan deteksi dini penyakit
ü  Meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam upaya kesehatan dengan penggunaan buku KIA.
ü  Penggunaan bagan MTBS dalam penanganan balita sakit
ü  Mendorong pemberdayaan perempuan, keluarga dan masyarakat
2. Meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan kesehatan
ü Penempatan bidan di semua desa
ü Penempatan dokter, bidan, dan perawat di semua puskesmas dan jaringannya
ü Kunjungan rumah
ü  Pengadaan obat program
ü  Penyediaan alat kesehatan
ü  Memperbaiki fasilitas dan sistem rujukan
ü Pelatihan, penyegaran pengetahuan, kursus bagi tenaga kesehatan
ü Perbaikan kurikulum dan metode pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan          program (pre service), peningkatan in service training
            3.  Advokasi pada pemerintah daerah / penentu kebijakan untuk:
ü  Peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat / keluarga
ü  Memperbaiki sistem dan manajemen program
ü  Mobilisasi dukungan keuangan di daerah untuk KIA untuk pembiayaan yang lebih proporsional
ü  Peningkatan anggaran KIA di daerah dengan pendekatan investasi (lebih promotif-preventif).
ü  Berdasarkan kebijakan desentralisasi dan SPM, mengambil keputusan dengan memprioritakan investasi dan intervensi efektif KIA
ü  Membangun kemitraan yang efektif dengan lintas program dan lintas sektor
ü  Penyediaan SDM Kesehatan di seluruh puskesmas, pustu dan desa.





Referensi
            http://wartapedia.com/kesehatan/medis/1080-penanganan-gizi-buruk-di-indonesia.html        Diambil kembali dari www.google.com.
            Bertens, K. (2007). ETIKA. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
            Supariasa, I. D. (2001). Penilaian Status Gizi Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar